(English)
The language phenomenon known as 'brainrot' has developed as part of digital communication among teenagers through the use of terms such as skibidi, sigma, rizz, gyatt, and delulu. This study aims to identify the forms of brainrot language, analyze its social functions, and examine the linguistic creativity and digital identity embedded in its usage. The research employs an exploratory mixed-methods approach, dominated by qualitative analysis and supported by descriptive quantitative data. Data was collected through questionnaires administered to 110 respondents aged 11–16 years old, alongside an analysis of 200 comments from 10 TikTok videos. The findings indicate that the most prevalent linguistic categories are neologisms (98.5%) and semantic shifts (53.5%). In terms of social function, humor emerged as the most dominant category (73.5%), whereas solidarity was found in a more limited proportion (8%). Regarding digital identity, community membership was the most frequently identified category (52.5%), while digital generational markers accounted for only 2.5% of the comments. Questionnaire results also revealed that most respondents do not explicitly view brainrot as a tool for constructing self-image or generational identity. These findings suggest that brainrot, within the context of this study, serves as a creative and contextual digital communication practice, primarily tied to linguistic variation, humor, and active participation in digital communication.
Keywords: brainrot, digital language, teenagers, linguistic creativity, digital identity, TikTok.
(Bahasa Indonesia)
Fenomena bahasa brainrot berkembang sebagai bagian dari komunikasi digital remaja melalui penggunaan istilah seperti skibidi, sigma, rizz, gyatt, dan delulu. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk bahasa brainrot, menganalisis fungsi sosialnya, serta mengkaji kreativitas linguistik dan identitas digital dalam penggunaannya. Penelitian menggunakan metode campuran eksploratif dengan dominasi analisis kualitatif dan dukungan data kuantitatif deskriptif. Data diperoleh melalui kuesioner terhadap 110 responden berusia 11–16 tahun serta analisis terhadap 200 komentar dari 10 video TikTok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori linguistik yang paling banyak ditemukan adalah neologisme (98,5%) dan pergeseran makna (53,5%). Pada fungsi sosial, humor menjadi kategori yang paling dominan (73,5%), sedangkan solidaritas ditemukan dalam proporsi yang lebih terbatas (8%). Pada dimensi identitas digital, keanggotaan komunitas (in-group) merupakan kategori yang paling banyak ditemukan (52,5%), sementara penanda generasi digital hanya ditemukan pada 2,5% komentar. Hasil kuesioner juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak secara langsung menganggap brainrot sebagai sarana membangun citra diri atau identitas generasi. Temuan ini menunjukkan bahwa brainrot dalam penelitian ini merupakan praktik komunikasi digital yang kreatif dan kontekstual, terutama berkaitan dengan variasi linguistik, humor, dan partisipasi dalam komunikasi digital.
Kata kunci: brainrot, bahasa digital, remaja, kreativitas linguistik, identitas digital, TikTok.